MAKALAH BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN
“ALPUKAT”
![]() |
Oleh
KELOMPOK 12
Nama
NIM
Iradat C1M014086
Lalu Amri Risyadi C1M014102
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karunia, taufik
dan hidayahnya, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang berisikan tentang
“TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN ALPUKAT ”. Makalah ini merupakan bagian dari
kajian Masalah teknik budidaya, namun pembahasan mengenai masalah ini tidak
akan habis untuk dibahas karena masalah ini sudah merupakan bagian dari pola
kehidupan petani. Oleh karena itu, pembahasan mengenai “TEKNIK
BUDIDAYA TANAMAN ALPUKAT ” dapat dirangkum secara rapi dalam karya
ilmiah ini.
Kami
sadar dan percaya, bahwa makalah yang kami tulis kurang dari sempurna, untuk
itu kami mohon saran dan kritik yang sifatnya membangun, agar nantinya kami
dapat menulis makalah yang lebih baik lagi.
Tidak
lupa kami mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah memberikan kami motivasi terutama kepada
dosen pengampu kami Bapak dalam rangka
pengadaan makalah ini,saya berharap informasi yang terdapat dalam makalah ini
sangat berguna bagi pembaca makalah ini.
Mataram, 22 Mei 2016
Penyusun,
HALAMAN PENGESAHAN
Makalah ini susun sebagai salah satu syarat dan bukti
untuk mengikuti matakuliah budidaya tanaman tahunan selanjutynya.
Mataram, 22 Mei 2016
Mengetahui,
Dosen Pengampu Mata Kuliah,
(Ir. Khaerul Muslim
M.Agr. Sc.)
Penyusun,
(
Iradat ) (L.
Amri Risyadi)
C1M014086 C1M014102
BAB I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Keberadaan
tanaman alpukat telah cukup lama di Indonesia, sekitar dua abad yang lalu.
Pengembangan tanaman alpukat di tanah air tampaknya belum merata. Buah alpukat
merupakan buah yang memiliki nilai nutrisi, kandungan lemak, dan energi buah
yang tinggi. Buah alpukat bukan hanya sekedar sumber vitamin dan mineral,
tetapi dapat pula dijadikan bahan pangan dan penyedia energi.
Namun
masyarakat kita, khususnya masyarakat kota, hanya sekedar menkonsumsi buah
alpukat dalam bentuk sari juice buahnya bersama sirop dan penyedap lain. Pola
konsumsi hanya minum buah alpukat seyogianya dapat diubah menjadi pola konsumsi
makan buah alpukat, khususnya bagi masyarakat di daerah wilayah dataran tinggi
dan desa terpencil.
Dalam
perdagangan dunia, buah alpukat merupakan komoditas buah yang penting; volume
perdagangannya menempati urutan kelima susudah jeruk, pisang, nenas, dan
mangga. Pengembangan tanaman alpukat di tanah air pada era agribisnis saat ini
kiranya akan dapat memberikan manfaat dan meningkatkan berbagai aspek kehidupan
masyarakat dan ekonomi, khususnya dalam usaha perbaikan kesehatan gizi, serta
sosial ekonomi dan lingkungan hidup.
Tanaman
alpukat merupakan tanaman buah berupa pohon dengan nama alpuket (Jawa Barat),
alpokat (Jawa Timur/Jawa Tengah), boah pokat, jamboo pokat (Batak), advokat,
jamboo mentega, jamboo pooan, pookat (Lampung) dan lain-lain.
Tanaman
alpukat bukan tanaman asli Indonesia, tanaman alpukat berasal dari dataran rendah/tinggi
Amerika Tengah dan diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-18. Secara
resmi antara tahun 1920-1930 Indonesia telah mengintroduksi 20 varietas alpukat
dari Amerika Tengah dan Amerika Serikat untuk memperoleh varietas-varietas
unggul guna meningkatkan kesehatan dan gizi masyarakat, khususnya di daerah
dataran tinggi.
B.
Maksud dan Tujuan
Adapun maksud makalah ini dibuat adalah sebagai berikut:
1.
Dengan adanya inovasi dan motivasi terhadap petani tanaman alpukat
diharapkan akan memperbaiki cara budidaya yang sesuai dengan paket teknologi
tanaman alpukat, yang mana pada akhirnya akan memperbaiki tarap hidup petani
dan keluarganya.
2.
Sebagai bahan acauan untuk para petani dan pemerintah dalam pengambangan
budidaya tanaman alpukat.
3.
Manfa’at
Adapun Manfaat
makalah ini adalah :
1.
Sebagai salah satu bahan acuhan untuk perbaikan teknik budidaya alpukat.
2.
Sebagai bahan masukan berupa informasi yang jelas bagi pemerintah daerah
dan pihak – pihak berkepentingan
BAB
II. TINJAUAN PUSTAKA
A.
Aspek
Ekonomi
Eksport
alpukat Indondesia selama tahun 1986-1993 niaik turun, yakni dari 10.755 kg
senilai US $ 1.183 (1986), naik menjadi 15.345 kg senilai US $ 2.486 (1987),
dan menycapai 32.750 kg senilai US $ 25.728 (1988), tetapi kemudian turun
menjadi hanya 16.272 kg senilai US $ 2.163 (1989), 9.820 kg senilai US $ 20.565
(1990), 1. 179 kg senilai US $ 1.82 (1991), 14.527 kg senilai US $ 14.334
(1992), dan 3.166 kg senilai US $ 2.566 (1993). Walaupun cendrung berfluktuasi,
data Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa tahun 1986-1990, pertumbuhan ekspor
alpukat rata-rata meningkat sebesar 16,36% per tahun dan kontribusi terhadap
ekspor buah nasional tahun 1990 mencapai 0,49%. (Rukmana R.H., 1997)
B.
Kendala di NTB
Agar produksi tanaman alpukat dapat berproduksi sesuai
yang diharapkan dan dapat meningkatkan pendapatan petani alpukat,didapati
kendala alpukat di NTB adalah sebagai
berikut :
1. Kurangnya asupan teknologi
terapan terhadap tanaman alpukat.
2. Kelembagaan petani
alpukat belum terbentuk.
3. Bibit yang digunakan
asal usulnya tidak diketahui.
4. Tanaman alpukat yang
ditanam oleh petani masih di pekarangan.
5. Pemupukan tanaman alpukat hampir
tidak dilakukan oleh petani.
6. Cara penjualan secara sendiri
sendiri.
7. Sortasi hasil panen tidak dilakukan
sama sekali.
8. Pentingnya sertifikasi
pohon,untuk mendapatkan sertifikat Prima.
9. Program pemerintah
hampir tidak ada.
BAB III. BUDIDAYA TANAMAN ALPUKAT
A. Pembibitan
1.
Persyaratan Bibit
Bibit yang baik
antara lain yang berasal dari
a) Buah yang sudah cukup tua.
b) Buahnya
tidak jatuh hingga pecah.
c) Pengadaan
bibit lebih dari satu jenis untuk menjamin kemungkinan adanya persarian bersilang.
2.
Penyiapan Bibit
Sampai saat ini bibit alpukat hanya dapat diperoleh secara generatif (melalui
biji) dan vegetatif (penyambungan pucuk/enten dan penyambungan mata/okulasi).
Dari ketiga cara itu, bibit yang diperoleh dari biji kurang menguntungkan
karena tanaman lama berbuah (6-8 tahun) dan ada kemungkinan buah yang
dihasilkan berbeda dengan induknya Sedangkan bibit hasil okulasi maupun enten
lebih cepat berbuah (1-4 tahun) dan buah yang didapatkannya mempunyai sifat
yang sama dengan induknya.
3.
Teknik Penyemaian
Bibit
a) Penyambungan
pucuk (enten)
Pohon pokok yang digunakan untuk enten adalah tanaman yang sudah berumur
6-7 bulan/dapat juga yang sudah berumur 1 tahun, tanaman berasal dari biji yang
berasal dari buah yang telah tua dan masak, tinggi 30 cm/kurang, dan yang
penting jaringan pada pangkal batang belum berkayu. Sebagai
cabang sambungannya digunakan ujung dahan yang masih muda dan berdiameter lebih
kurang 0,7 cm. Dahan tersebut dipotong miring sesuai dengan celah yang ada pada
pohon pokok sepanjang lebih kurang 10 cm, kemudian disisipkan ke dalam belahan
di samping pohon pokok yang diikat/dibalut. Bahan yang baik untuk mengikat
adalah pita karet, plastik, rafia/kain berlilin. Sebaiknya penyambungan pada
pohon pokok dilakukan serendah mungkin supaya tidak dapat kuncup pada tanaman
pokok. Enten-enten yang telah disambung
diletakkan di tempat teduh, tidak berangin, dan lembab. Setiap hari tanaman
disiram, dan untuk mencegah serangan penyakit sebaiknya tanaman disemprot
fungisida. Pada musim kering hama tungau putih sering menyerang, untuk itu
sebaiknya dicegah dengan semprotan kelthane. Bibit biasanya sudah dapat
dipindahkan ke kebun setelah berumur 9-16 bulan, dan pemindahannya dilakukan
pada saat permulaan musim hujan
b) Penyambungan Mata
(okulasi)
Pembuatan bibit secara okulasi dilakukan pada pohon pangkal berumur 8-10
bulan.Sebagai mata yang akan diokulasikan diambil dari dahan
yang sehat, dengan umur 1 tahun, serta matanya tampak jelas. Waktu yang paling
baik untuk menempel yaitu pada saat kulit batang semai mudah dilepaskan dari
kayunya. Caranya adalah kulit pohon pokok disayat sepanjang 10 cm dan lebarnya
8 mm. Kulit tersebut dilepaskan dari kayunya dan ditarik ke bawah lalu dipotong
6 cm. Selanjutnya disayat sebuah mata dengan sedikit kayu dari cabang mata
(enthout), kayu dilepaskan pelan-pelan tanpa merusak mata. Kulit yang bermata dimasukkan
di antara kulit dan kayu yang telah disayat pada pohon pokok dan ditutup lagi,
dengan catatan mata jangan sampai tertutup. Akhirnya balut seluruhnya dengan
pita plastik. Bila dalam 3-5 hari matanya masih hijau, berarti penempelan
berhasil. Selanjutnya 10-15 hari setelah penempelan, tali plastik dibuka.
Batang pohon pokok dikerat melintang sedalam setengah diameternya, kira-kira
5-7,5 cm di atas okulasi, lalu dilengkungkan sehingga pertumbuhan mata dapat
lebih cepat. Setelah batang yang keluar dari mata mencapai tinggi 1 m, maka
bagian pohon pokok yang dilengkungkan dipotong tepat di atas okulasi dan
lukanya diratakan, kemudian ditutup dengan parafin yang telah dicairkan. Pohon
okulasi ini dapat dipindahkan ke kebun setelah berumur 8-12 bulan dan pemindahan
yang paling baik adalah pada saat permulaan musim hujan. Dalam perbanyakan
vegetatif yang perlu diperhatikan adalah menjaga kelembaban udara agar tetap
tinggi (+ 80%) dan suhu udara di tempat penyambungan jangan terlalu tinggi
(antara 15-25 derajat C). Selain itu juga jangan dilakukan pada musim hujan
lebat serta terlalu banyak terkena sinar matahari langsung. Bibit yang berupa
sambungan perlu disiram secara rutin dan dipupuk 2 minggu sekali. Pemupukan bisa bersamaan dengan
penyiraman, yaitu dengan melarutkan 1-1,5 gram urea/NPK ke dalam 1 liter air.
Pupuk daun bisa juga diberikan dengan dosis sesuai anjuran dalam kemasan.
Sedangkan pengendalian hama dan penyakit dilakukan bila perlu saja.
4.
Pengolahan Media Tanam
Lahan
untuk tanaman alpukat harus dikerjakan dengan baik; harus bersih dari pepohonan, semak belukar, tunggul-tunggul bekas
tanaman, serta batu-batu yang mengganggu. Selanjutnya lahan dicangkul dalam atau
ditraktor, lalu dicangkul halus 2-3 kali. Pengerjaan lahan sebaiknya dilakukan
saat musim kering sehingga penanaman nantinya dapat dilakukan pada awal atau
saat musim hujan.
B.
Teknik Penanaman
1. Pola
Penanaman
Pola penanaman alpukat
sebaiknya dilakukan secara kombinasi antara varietas-varietasnya. Hal ini
mengingat bahwa kebanyakan varietas tanaman alpukat tidak dapat melakukan
penyerbukan sendiri, kecuali varietas ijo panjang yang memiliki tipe bunga A.
Ada 2 tipe bunga dari beberapa varietas alpukat di Indonesia, yaitu tipe A dan
tipe B. Varietas yang tergolong tipe bunga A adalah ijo panjang, ijo bundar,
merah panjang, merah bundar, waldin, butler, benuk, dickinson, puebla, taft,
dan hass. Sedangkan yang tergolong tipe B adalah collinson, itszamma,
winslowsaon, fuerte, lyon, nabal, ganter, dan queen. Penyerbukan silang hanya
terjadi antara kedua tipe bunga. Oleh karena itu, penanaman alpukat dalam suatu
lahan harus dikombinasi antara varietas yang memiliki tipe bunga A dan tipe
bunga B sehingga bunga-bunganya saling menyerbuki satu sama lain.
2. Pembuatan
Lubang Tanam
a.
Tanah digali dengan ukuran panjang,
lebar, dan tinggi masing-masing 75 cm. Lubang tersebut dibiarkan terbuka selama
lebih kurang 2 minggu.
b.
Tanah bagian atas dan bawah dipisahkan.
c.
Lubang tanam ditutup kembali dengan
posisi seperti semula. Tanah bagian atas dicampur dulu dengan 20 kg pupuk
kandang sebelum dimasukkan ke dalam lubang.
d.
Lubang tanam yang telah tertutup kembali
diberi ajir untuk memindahkan mengingat letak lubang tanam.
3. Cara
Penanaman
Waktu penanaman yang
tepat adalah pada awal musim hujan dan tanah yang ada dalam lubang tanam tidak
lagi mengalami penurunan. Hal yang perlu diperhatikan adalah tanah yang ada
dalam lubang tanam harus lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Hal ini untuk
menghindari tergenangnya air bila disirami atau turun hujan. Langkah-langkah
penanaman adalah sebagai berikut:
a.
Lubang tanam yang telah ditutup, digali
lagi dengan ukuran sebesar wadah bibit.
b.
Bibit dikeluarkan dari keranjang atau
polibag dengan menyayatnya agar gumpalan tanah tetap utuh.
c.
Bibit beserta tanah yang masih
menggumpal dimasukkan dalam lubang setinggi leher batang, lalu ditimbun dan
diikatkan ke ajir.
d.
Setiap bibit sebaiknya diberi naungan
untuk menghindari sinar matahari secara langsung, terpaan angin, maupun siraman
air hujan. Naungan tersebut dibuat miring dengan bagian yang tinggi di sebelah
timur. Peneduh ini berfungsi sampai tumbuh tunas-tunas baru atau lebih kurang
2-3 minggu.
4. Pemeliharaan
Tanaman
a.
Penyiangan
Gulma banyak tumbuh di
sekitar tanaman karena di tempat itu banyak terdapat zat hara. Selain merupakan
saingan dalam memperoleh makanan, gulma juga merupakan tempat bersarangnya hama
dan penyakit. Oleh karena itu, agar tanaman dapat tumbuh dengan baik maka
gulma-gulma tersebut harus disiangi (dicabut) secara rutin.
b.
Penggemburan Tanah
Tanah yang setiap hari
disiram tentu saja akan semakin padat dan udara di dalamnya semakin sedikit.
Akibatnya akar tanaman tidak dapat leluasa menyerap unsur hara. Untuk
menghindarinya, tanah di sekitar tanaman perlu digemburkan dengan hati-hati
agar akar tidak putus.
c.
Penyiraman
Bibit yang baru ditanam
memerlukan banyak air, sehingga penyiraman perludilakukan setiap hari. Waktu
yang tepat untuk menyiram adalah pagi/sore hari, dan bila hari hujan tidak
perlu disiram lagi.
d.
Pemangkasan Tanaman
Pemangkasan hanya
dilakukan pada cabang-cabang yang tumbuh terlalu rapat atau ranting-ranting
yang mati. Pemangkasan dilakukan secara hati-hati agar luka bekas pemangkasan
terhindar dari infeksi penyakit dan luka bekas pemangkasan sebaiknya diberi
fungisida/penutup luka.
e.
Pemupukan
Dalam pembudidayaan
tanaman alpukat diperlukan program pemupukan yang baik dan teratur. Mengingat
sistem perakaran tanaman alpukat, khususnya akarakar rambutnya, hanya sedikit
dan pertumbuhannya kurang ekstensif maka pupuk harus diberikan agak sering
dengan dosis kecil.
Jumlah pupuk yang
diberikan tergantung pada umur tanaman. Bila program pemupukan tahunan
menggunakan pupuk urea (45% N), TSP (50% P), dan KCl (60% K) maka untuk tanaman
berumur muda (1-4 tahun) diberikan urea, TSP, dan KCl masing-masing sebanyak
0,27-1,1 kg/pohon, 0,5-1 kg/pohon dan 0,2-0,83 kg/pohon. Untuk tanaman umur
produksi (5 tahun lebih) diberikan urea, TSP, dan KCl masing-masing sebanyak
2,22-3,55 kg/pohon, 3,2 kg/pohon, dan 4 kg/pohon. Pupuk sebaiknya diberikan 4
kali dalam setahun.
Mengingat tanaman
alpukat hanya mempunyai sedikit akar rambut, maka sebaiknya pupuk diletakkan
sedekat mungkin dengan akar. Caranya dengan menanamkan pupuk ke dalam lubang
sedalam 30-40 cm, di mana lubang tersebut dibuat tepat di bawah tepi tajuk
tanaman, melingkari tanaman.
C. Panen
1. Ciri
dan Umur Panen
Ciri-ciri buah yang
sudah tua tetapi belum masak adalah:
a.
warna kulit tua tetapi belum menjadi
cokelat/merah dan tidak mengkilap;
b.
bila buah diketuk dengan punggung kuku,
menimbulkan bunyi yang nyaring;
c.
bila buah digoyang-goyang, akan
terdengar goncangan biji.
Penetapan tingkat
ketuaan buah tersebut memerlukan pengalaman tersendiri. Sebaiknya perlu diamati
waktu bunga mekar sampai enam bulan kemudian, karena buah alpukat biasanya tua
setelah 6-7 bulan dari saat bunga mekar. Untuk perlu dipetik beberapa buah
sebagai contoh. Bila buah-buah contoh tersebut masak dengan baik, tandanya buah
tersebut telah tua dan siap dipanen.
2. Cara
Panen
Umumnya memanen buah
alpukat dilakukan secara manual, yaitu dipetik menggunakan tangan. Apabila
kondisi fisik pohon tidak memungkinkan untuk dipanjat, maka panen dapat dibantu
dengan menggunakan alat/galah yang diberi tangguk kain/goni pada
ujungnya/tangga. Saat dipanen, buah harus dipetik/dipotong bersama sedikit
tangkai buahnya (3-5 cm) untuk mencegah memar, luka/infeksi pada bagian dekat
tangkai buah.
3. Periode
Panen
Biasanya alpukat
mengalami musim berbunga pada awal musim hujan, dan musim berbuah lebatnya
biasanya pada bulan Desember, Januari, dan Februari. Di Indonesia yang keadaan
alamnya cocok untuk pertanaman alpukat, musim panen dapat terjadi setiap bulan.
4. Prakiraan
Produksi
Produksi buah alpukat
pada pohon-pohon yang tumbuh dan berbuah baik dapatmencapai 70-80 kg/pohon/
tahun. Produksi rata-rata yang dapat diharapkan dari setiap pohon berkisar 50
kg.
D. Pascapanen
1. Pencucian
Pencucian dimaksudkan
untuk menghilangkan segala macam kotoran yang menempel sehingga mempermudah penggolongan/penyortiran.
Cara pencucian tergantung pada kotoran yang menempel.
2. Penyortiran
Penyortiran buah
dilakukan sejak masih berada di tingkat petani, dengan tujuan memilih buah yang
baik dan memenuhi syarat, buah yang diharapkan adalah yang memiliki ciri
sebagai berikut:
a.
Tidak cacat, kulit buah harus mulus
tanpa bercak.
b.
Cukup tua tapi belum matang.
c.
Ukuran buah seragam. Biasanya dipakai
standar dalam 1 kg terdiri dari 3 buah atau berbobot maksimal 400 g.
d.
Bentuk buah seragam. Pesanan paling
banyak adalah yang berbentuk lonceng.
e.
Buah yang banyak diminta importir untuk
konsumen luar negeri adalah buah alpukat yang dagingnya berwarna kuning mentega
tanpa serat. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, semua syarat tadi
tidak terlalu diperhitungkan.
3. Pemeraman
dan Penyimpanan
Alpukat baru dapat
dikonsumsi bila sudah masak. Untuk mencapai tingkat kemasan ini diperlukan
waktu sekitar 7 hari setelah petik (bila buah dipetik pada saat sudah cukup
ketuaannya). Bila tenggang waktu tersebut akan dipercepat, maka buah harus
diperam terlebih dulu. Untuk keperluan ekspor, tidak perlu dilakukan pemeraman
karena tenggang waktu ini disesuaikan dengan lamanya perjalanan untuk sampai di
tempat tujuan.
Cara pemeraman alpukat
masih sangat sederhana. Pada umumnya hanya dengan memasukkan buah ke dalam
karung goni, kemudian ujungnya diikat rapat. Setelah itu karung diletakkan di
tempat yang kering dan bersih. Karena alpukat mempunyai umur simpan hanya
sampai sekitar 7 hari (sejak petik sampai siap dikonsumsi), maka bila ingin
memperlambat umur simpan tersebut dapat dilakukan dengan menyimpannya dalam
ruangan bersuhu 5 derajat C. Dengan cara tersebut, umur penyimpanan dapat
diperlambat samapai 30-40 hari.
4. Pengemasan
dan Pengangkutan
Kemasan adalah
wadah/tempat yang digunakan untuk mengemas suatu komoditas. Kemasan untuk pasar
lokal berbeda dengan yang untuk diekspor. Untuk pemasaran di dalam negeri, buah
alpukat dikemas dalam karung-karung plastik/keranjang, lalu diangkut dengan
menggunakan truk. Sedangkan kemasan untuk ekspor berbeda lagi, yaitu umumnya
menggunakan kotak karton berkapasitas 5 kg buah alpukat. Sebelum dimasukkan ke
dalam kotak karton, alpukat dibungkus kertas tissue, kemudian diatur sususannya
dengan diselingi penyekat yang terbuat dari potongan karton.
E. Masalah Yang Sering Timbul
1. Hama
Dan Penyakit
a.
Hama pada Daun
Ø Ulat
kipat (Cricula trisfenestrata Helf)
Ciri: Panjang tubuh 6
cm, berwarna hitam bercak-bercak putih dan dipenuhi rambut putih. Kepala dan
ekor berwarna merah menyala.
Gejala: Daun-daun tidak
utuh dan terdapat bekas gigitan. Pada serangan yang hebat, daun habis sama
sekali tetapi tanaman tidak akan mati, dan terlihat kepompong bergelantungan.
Pengendalian:
Menggunakan insektisida yang mengandung bahan aktif monokrotofos atau
Sipermetein, misal Cymbush 50 EC dengan dosis 1-3 cc/liter atau Azodrin 15 WSC
dengan dosis 2-3 cc/liter.
Ø Ulat
kupu-kupu gajah (Attacus atlas L.)
Ciri: Sayap kupu-kupu
dapat mencapai ukuran 25 cm dengan warna coklat kemerahan dan segitiga
tansparan. Ulat berwarna hijau tertutup tepung putih, panjang 15 cm dan
mempunyai duri yang berdaging. Pupa terdapat di dalam kepompong yang berwarna
coklat.
Gejala: Sama dengan
gejala serangan ulat kipat, tetapi kepompong tidak bergelantungan melainkan
terdapat di antara daun.
Pengendalian: Sama dengan
pemberantasan ulat kipat.
Ø Aphis
gossypii Glov/A. Cucumeris, A. cucurbitii/Aphis kapas.
Ciri: Warna tubuh hijau
tua sampai hitam atau kunig coklat. Hama ini mengeluarkan embun madu yang
biasanya ditumbuhi cendawan jelaga sehingga daun menjadi hitam dan semut
berdatangan.
Gejala: Pertumbuhan
tanaman terganggu. Pada serangan yang hebat tanaman akan kerdil dan terpilin.
Pengendalian: Disemprot
dengan insektisida berbahan aktif asefat/dimetoat,misalnya Orthene 75 SP dengan
dosis 0,5-0,8 gram/liter atau Roxion 2 cc/liter.
Ø Kutu
dompolan putih (Pseudococcus citri Risso)/Planococcus citri Risso
Ciri: Bentuk tubuh
elips, berwarna coklat kekuningan sampai merah oranye, tertutup tepung
putih, ukuran tubuh 3 mm, mempunyai tonjolan di tepi tubuh dengan jumlah
14-18 pasang dan yang terpanjang di bagian pantatnya.
Gejala: Pertumbuhan
tanaman terhambat dan kurus. Tunas muda, daun, batang, tangkaibunga, tangkai
buah, dan buah yang terserang akan terlihat pucat, tertutup massaberwarna
putih, dan lama kelamaan kering.
Pengendalian: Disemprot
dengan insektisida yang mengandung bahan aktif formotion, monokrotofos,
dimetoat, atau karbaril. Misalnya anthion 30 EC dosis 1-1,5 liter/ha,
Sevin 85 S dosis 0,2% dari konsentrasi fomula.
Ø Tungau
merah (Tetranychus cinnabarinus Boisd)
Ciri: Tubuh tungau
betina berwarna merah tua/merah kecoklatan, sedangkan tungau jantan hijau
kekuningan/kemerahan. Terdapat beberapa bercak hitam, kaki dan bagian
mulut putih, ukuran tubuh 0,5 mm.
Gejala: Permukaan daun
berbintikbintik kuning yang kemudian akan berubah menjadi merah tua
seperti karat. Di bawah permukaan daun tampak anyaman benang yang halus.
Serangan yang hebat dapat menyebabkan daun menjadi layu dan rontok.
Pengendalian: Disemprot
dengan akarisida Kelthan MF yang mengandung bahan aktifdikofoldan, dengan dosis
0,6-1 liter/ha.
b.
Hama pada Buah
Ø Lalat
buah Dacus (Dacus dorsalis Hend.)
Ciri: Ukuran tubuh 6 -
8 mm dengan bentangan sayap 5 - 7 mm. Bagian dada berwarna coklat tua bercak
kuning/putih dan bagian perut coklat muda dengan pita coklat tua. Stadium larva
berwarna putih pada saat masih muda dan kekuningan setelah dewasa, panjang
tubuhnya 1 cm.
Gejala: Terlihat bintik
hitam/bejolan pada permukaan buah, yang merupakan tusukan hama sekaligus tempat
untuk meletakkan telur. Bagian dalam buah berlubang dan busuk karena dimakan
larva.
Pengendalian: Dengan
umpan minyak citronella/umpan protein malation akan mematikan lalat yang
memakannya. Penyemprotan insektisida dapat dilakukan antara lain dengan
Hostathion 40 EC yang berbahan aktif triazofos dosis 2 cc/liter dan tindakan
yang paling baik adalah memusnahkan semua buah yang terserang atau membalik
tanah agar larva terkena sinar matahari dan mati.
Ø Codot
(Cynopterus sp)
Ciri: Tubuh seperti
kelelawar tetapi ukurannya lebih kecil menyerang buah-buahan pada malam hari.
Gejala: Terdapat bagian
buah yang berlubang bekas gigitan. Buah yang terserang hanya yang telah tua,
dan bagian yang dimakan adalah daging buahnya saja.
Pengendalian: Menangkap
codot menggunakan jala/menakut-nakutinya menggunakan kincir angin yang diberi
peluit sehingga dapat menimbulkan suara.
c.
Hama pada Cabang/Ranting
Ø Kumbang
bubuk cabang (Xyleborus coffeae Wurth / Xylosandrus morigerus Bldf).
Ciri: Kumbang yang
lebih menyukai tanaman kopi ini berwarna coklat tua dan berukuran 1,5 mm. Larvanya
berwarna putih dan panjangnya 2 mm.
Gejala: Terdapat lubang
yang menyerupai terowongan pada cabang atau ranting. Terowongan itu dapat
semakin besar sehingga makanan tidak dapat tersalurakan ke daun, kemudian daun
menjadi layu dan akhirnya cabang atau ranting tersebut mati.
Pengendalian:
Cabang/ranting yang terserang dipangkas dan dibakar. Dapat juga disemprot
insektisida berbahan aktif asefat atau diazinon yang terkandung dalam Orthene
75 SP dengan dosis pemberian 0,5-0,8 gram/liter dan Diazinon 60 EC dosis 1-2
cc/liter.
2. Penyakit
yang disebabkan Jamur
a.
Antraknosa
Penyebab:
Jamur Colletotrichum gloeosporioides (Penz.) sacc. Yang mempunyai miselium
berwarna cokleat hijau sampai hitam kelabu dan sporanya berwarna jingga.
Gejala:
Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman, kecuali akar. Bagian yang
terinfeksi berwarna cokelat karat, kemudian daun, bunga, buah/cabang tanaman
yang terserang akan gugur.
Pengendalian:
Pemangkasan ranting dan cabang yang mati. Penelitian buah dilakukan agak awal
(sudah tua tapi belum matang). Dapat juga disemprot dengan fungisida yang
berbahan aktif maneb seperti pada Velimex 80 WP. Fungisida ini diberikan 2
minggu sebelum pemetikan dengan dosis 2-2,5 gram/liter.
b.
Bercak daun atau bercak cokelat
Penyebab: cercosporapurpurea Cke./dikenal
juga dengan Pseudocercospora purpurea (Cke.) Derghton. Jamur ini berwarna gelap
dan menyukai tempat lembab.
Gejala:
bercak cokelat muda dengan tepi cokelat tua di permukaan daun atau buah.
Bila cuaca lembab, bercak cokelat berubah menjadi bintik-bintik kelabu.
Bila dibiarkan, lama-kelamaan akan menjadi lubang yang dapat
dimasuki organisme lain.
Pengendalian:
Penyemprotan fungisida Masalgin 50 WP yang mengandung benomyl, dengan
dosis 1-2 gram/liter atau dapat juga dengan mengoleskan bubur Bordeaux.
c.
Busuk akar dan kanker batang
Penyebab:
Jamur Phytophthora yang hidup saprofit di tanah yang mengandung bahan organik,
menyukai tanah basah dengan drainase jelek. Gejala: Bila tanaman yang
terserang akarnya maka pertumbuhannya menjadi terganggu, tunas mudanya jarang
tumbuh. Akibat yang paling fatal adalah kematian pohon. Bila batang tanaman
yang terserang maka akan tampak perubahan warna kulit pada pangkal batang.
Pengendalian:
drainase perlu diperbaiki, jangan sampai ada air yang menggenang/dengan membongkar
tanaman yang terserang kemudian diganti dengan tanaman yang baru.
d.
Busuk buah
Penyebab: Botryodiplodia
theobromae pat. Jamur ini menyerang apabila ada luka pada permukaan buah.
Gejala:
Bagian yang pertama kali diserang adalah ujung tangkai buah dengan tanda adanya
bercak cokelat yang tidak teratur, yang kemudian menjalar ke bagian buah. Pada
kulit buah akan timbul tonjolan-tonjolan kecil. Pengendalian: Oleskan
bubur Bordeaux/ semprotkan fungisida Velimex 80 WP yang berbahan aktif Zineb,
dengan dosis 2-2,5 gram/liter.
F. Syarat Pertumbuhan
1.
Iklim
a) Angin
diperlukan oleh tanaman alpukat, terutama untuk proses penyerbukan. Namun
demikian angin dengan kecepatan 62,4-73,6 km/jam dapat dapat mematahkan ranting
dan percabangan tanaman alpukat yang tergolong lunak, rapuh dan mudah patah.
b) Curah hujan
minimum untuk pertumbuhan adalah 750-1000 mm/tahun. Ras Hindia Barat
dan persilangannya tumbuh dengan subur pada dataran rendah beriklim tropis
dengan curah hujan 2500 mm/tahun. Untuk daerah dengan curah hujan kurang dari
kebutuhan minimal (2-6 bulan kering), tanaman alpukat masih dapat tumbuh asal kedalaman
air tanah maksimal 2 m.
2.
Kebutuhan Cahaya
Matahari
Untuk
pertumbuhan alpukat berkisar40-80
%. Untuk ras Meksiko dan Guatemala lebih tahan terhadap
cuaca dingin dan iklim kering, bila dibandingkan dengan ras Hindia
Barat.
3.
Suhu Optimal
Untuk
pertumbuhan alpukat berkisar antara 12,8-28,3O C.
Mengingat tanaman alpukat dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi,
tanaman alpukat dapat mentolerir suhu udara antara 15-30 O C
atau lebih. Besarnya suhu kardinal tanaman alpukat tergantung ras
masing-masing, antara lain ras Meksiko memiliki daya toleransi sampai –7 O C,
Guatemala sampai -4,5 O C, dan Hindia Barat sampai 2 O C.
4.
Media Tanam
a) Tanaman
alpukat agar tumbuh optimal memerlukan tanah gembur, tidak mudah tergenang air,
(sistem drainase/pembuangan air yang baik), subur dan banyak mengandung bahan
organik.
b) Jenis tanah yang baik untuk pertumbuhan
alpukat adalah jenis tanah lempung berpasir (sandy loam),
lempung liat (clay loam) dan lempung endapan (aluvial loam).
c) Keasaman
tanah yang baik untuk pertumbuhan alpukat berkisar antara Ph
sedikit asam sampai netral, (5,6-6,4). Bila pH di
bawah 5,5 tanaman akan menderita keracunan karena unsur Al, Mg, dan
Fe larut dalam jumlah yang cukup banyak. Sebaliknya pada pH di atas
6,5 beberapa unsur fungsional seperti Fe, Mg, dan Zn akan
berkurang.
5.
Ketinggian Tempat
Pada umumnya tanaman
alpukat dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi, yaitu 5-1500 m
dpl. Namun tanaman ini akan tumbuh subur dengan hasil yang memuaskan pada ketinggian
200-1000 m dpl. Tetapi untuk tanaman alpukat ras Meksiko dan Guatemala
lebih cocok ditanam di daerah dengan ketinggian 1000-2000 m dpl., sedangkan ras
Hindia Barat pada ketinggian 5-1000 m dpl.
BAB IV. KESIMPULAN
A.
Kesimpulan
Melihat keberadaan sosial ekonomi petani tanaman alpukat yang ada di
wilayah NTB, perlu adanya solusi yang sesuai dengan tingkat pendidikan, kultur
budaya serta kemauan dan kemampuan petani dalam mengimplikasikan inovasi
terapan sesuai dengan ekologi setempat.
B.
Saran
Untuk meningkatkan pendapatan
petani buah-buahan khususnya alpukat perlu adanya pemahaman terhadap sosial
ekonomi daerah yang akan dikembangkan, karena kalau tidak memperhatikan kemauan
dan kemampuan serta tingkat pendidikan petani yang ada maka akan terjadi
ketidak sinambungan program pemerintah dengan petani.
DAFTAR PUSTAKA
http://Anang.B.P.bpptiris.blogspot.co.id/2012/11/makalah-masalah-teknik-budidaya-tanaman.html
Rukmana R. H., 1997. Seri Budi Daya Alpukat. Kanisius.
Deresan, Yogyakarta

keren
BalasHapusMakasih yud
BalasHapus