LAPORAN
MINGGUAN
FISIOLOGI
DAN TEKNOLOGI PASCAPANEN
ACARA VI: Pengaruh Ethrel Etefon Terhadap Tingkat Kematangan dan
Umur Simpan Beberapa Buah Terseleksi

Oleh:
Nama :
IRADAT
NIM : CIM014086
Kelompok : 7
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
MATARAM
2017
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan
ini disusun dan disahkan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti praktikum
selanjutnya.
Mataram,
18 Mei 2017
Mengetahui,
Co.Ass, Praktikan,
(Bq.Anissa KK) (I r a d a t)
NIM:
C1M013027 NIM: C1M014086
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sayuran
dan buahan hasil pertanian pada umumnya setelah dipanen jika dibiarkan begitu
saja akan mengalami perubahan akibat pengaruh fisiologis, fisik, kimiawi parasit
atau mikrobiologis. Perubahan-perubahan tersebut ada yang mengntungkan, tetapi
kalau tidak dikendalikan akan sangat merugikan.
Sayuran
dan buahan pada umumnya mempunyai kadar air yang tinggi, tetapi rendah dalam
kandungan protein dan lemak. Komposisi setiap sayuran dan buah berbeda,
tergantung pada varietas, cara panen, pemeliharaan tanaman, keadaan iklim,
tingkat kematangan, kondisi selama pematangan dan kondisi ruang pematangan.
Dalam
budidaya pertanian, hal-hal sedikit apapun yang menyangkut produktivitas harus
selalu diperhatikan, Khususnya pada komoditi buah-buahan yang berhubungan
dengan penanganan pasca panen. Pada buah-buahan, untuk melakukan suatu metode
pasca panen yang baik harus diawali dengan proses pemanenan yang terarah. Mutu
yang baik, diperoleh bila pemanenan hasilnya dilakukan pada tingkat kemasakan
yang tepat. Buah-buahan yang diambil pada waktu yang belum saatnya akan
menumbulkan mutu dan pematangan yang salah, begitu pula jika pemungutan
buah-buahan yang tertunda dapat mengakibatkan pembusukan.
Seiring
dengan perubahan tingkat ketuaan dan kematangan, pada umumnya buah-buahan
mengalami serangkaian perubahan komposisi kimia maupun fisiknya. Rangkaian
perubahan tersebut mempunyai implikasi yang luas terhadap metabolismedalam
jaringan tanaman tersebut. Diantaranya yaitu perubahan kandungan asam-asam
organik, gula dan karbohidrat lainnya. Perubahan tingakat keasaman dalam
jaringan juga akan mempengaruhi aktifitas beberapa enzim diantaranya adalah
enzim-enzim pektinase yang mampu mengkatalis degradasi protopektinyang tidak
larut menjadi substansi pectin yang larut. Perubahan komposisi substansi pektin
ini akan mempengaruhi kekerasan buah-buahan.
Etilen
merupakan hormon tumbuh yang diproduksi dari hasil metabolisme normal dalam
tanaman. Etilen berperan dalam pematangan buah dan kerontokan daun. Etilen
disebut juga ethane Senyawa etilen pada tumbuhan ditemukan dalam fase gas,
sehingga disebut juga gas etilen. Gas etilen tidak berwarna dan mudah menguap.
Etilen memiliki struktur yang cukup sederhana dan
diproduksi pada tumbuhan tingkat tinggi, Etilen sering dimanfaatkan oleh para
distributor dan importir buah. Buah dikemas dalam bentuk belum masak saat
diangkut pedagang buah. Setelah sampai untuk diperdagangkan, buah tersebut
diberikan etilen (diperam) sehingga cepat masak. Dalam pematangan buah,
etilen bekerja dengan cara memecahkan klorofil pada buah muda, sehingga buah
hanya memiliki xantofil dan karoten. Dengan demikian, warna buah menjadi jingga
atau merah.
B.
Tujuan Praktikum
Adapun tujuan
praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1.
Mengetahui dapat
tidaknya pematangan buah yang dipacu dengan gas pematangan buah
2.
Membandingkan
kecepatan pematangan buah secara alami dengan secara dipacu hormon pematang
buah
3.
Membandingkan
beberapa karakter kualitas buah yang dimatangkan secara alami dan secara dipacu
4.
Membandingkan umur
simpan buah yang matang alami dan yang dipacu hormon pematang buah
BAB II
METODOLOGI
PRAKTIKUM
A.
Waktu
dan Tempat praktikum
Praktikum ini dilaksanakan
pada hari Jum’at, 12
Mei 2017 pukul 08:00-09:30 di
Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas
Mataram.
B.
Alat dan bahan
praktikum
Alat-alat
yang digunakan antara lain: bak besar,
namapan besar, lap kering, pisau, plastik container 250
1, hand sprayer, dan kertas label.
Bahan-bahan yang digunakan
praktikum antara lain: buah pisang dan
ethrel etefone
C.
Prosedur kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dipilih buah dengan dengan ukuran yang seragam
3. Tiap komoditas dipilah menjadi dua bagian. Satu bagian untuk dimatangkan
secara alami (kontrol), dan satu bagian lagi untuk dimatangkan dengan dipacu
menggunakan ethrel etefone
4. Dilihat penyakit /kerusakan visual pada buah yang sudah dipilih
5. Diukur tingkat kematangan, tekstur, berat, serta kadar
gula dari masing-masing buah yang sudah dipilih
6. Buah yang akan dimatangkan dengan dipacu ethrel etefone diletakkan
secara bergantian pada nampan, untuk kemudian disemprotkan ethrel etefone
dengan dosis 1 ml/l
7. Selanjutnya setiap komoditas akan dimasukkan kedalam
plastik container dan diberi kertas label (nama kelompok, matang alami/control
atau dipacu ethrel etefone, dan tanggal)
8. Buah disimpan selama 5 hari dan dilakukan pengamtan pada
hari ke-3 dan ke-5.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Pengamatan
Tabel Pengamatan Pengaruh Aplikasi Ethrel Etefone Pada
Buah Pisang
|
Jenis
Perlakuan
|
Data Awal
|
Hari ke-3
|
Hari ke-5
|
Kerusakan
Visual
|
|
Perlakuan dengan Ethrel
|
Tekstur : 2,0
|
Tekstur: 1.5
|
Tekstur: 1.2
|
Antraknosa
|
|
Kadar gula : 15
|
Kadar gula : 16
|
Kadar gula: 17
|
||
|
Kontol tanpa Ethrel
|
Berat : 24,6 gr
Tekstur
: 2.5
Kadar
gula : 14
|
Berat : 110.9 gr
Tekstur
: 2
Kadar
gula : 23
|
Berat: 110.1 gr
Tekstur
: 1.5
Kadar
gula: 26
|
B.
Pembahasan
Salah satu
cara penguningan dan pemasakan buah adalah dengan menggunakan Ethrel. Ethrel
sendiri sebenarnya adalah nama dagang dari zat penghasil etilen. Bahan aktifnya
adalah 2-chloro
ethyl phosponic acid. Sebuah zat yang sangat asam, dengan pH 2,0. Ethrel
diperdagangkan dalam tiga formula, yaitu Ethrel
40 PGR (dengan bahan aktif
480 g/l), Ethrel
10LS (dengan bahan aktif 10 %)
dan Ethrel
2,5LS (dengan bahan aktif 2,5
%). Tapi hanya Ethrel 40PGR saja yang berperan
sebagai perangsang pemasakan buah, sedang jenis ethrel lainnya berguna untuk
merangsang keluarnya lateks pada tanaman karet. Dalam tulisan ini
hanya akan dibahas Ethrel 40PGR. Zat pengatur tumbuh ini berupa cairan. Di
toko-toko saprotan kita akan
menjumpainya dalam kemasan botol plastik ukuran 1.000 cc dan 50 cc.
Menurut
informasi yang diperoleh dari perusahaan pemilik produk tersebut, Ethrel 40PGR
dapat digunakan pada berbagai jenis tanaman dengan tujuan yang
berbeda-beda sesuai dengan yang diinginkan dari hasil perlakuan zat pengatur
tumbuh tersebut.
Pisang (Musa
paradisiaca L.) banyak dikonsumsi masyarakat setelah diolah. Pisang memiliki
kandungan gizi cukup tinggi sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.
Pisang setelah dipanen akan disimpan hingga matang dan siap dikonsumsi atau
dijual. Pemberian kalsium karbida (CaC2) atau larutan etefon dapat digunakan
untuk mematangkan buah tua-mentah. Pengusahaan secara besar-besaran menggunakan
gas etilen atau ethrel untuk mempercepat proses pematangan. Pemberian ethrel
setelah panen dapat memungkinkan terjadinya perubahan kandungan gizi, khususnya
kandungan vitamin C. Menurut penelitian yamg telah dilakukan tentang pengaruh pemberian ethrel dan lama penyimpanan
pisang (Musa paradisiaca L.) oleh
Berdasarkan data hasil
pengamatan menunjukkan bahwa pengaruh ethrel terhadap pemasakan buah pisang
sangat berpengaruh dibandingkan dengan tanpa ethrel. Hal tersebut ditinjau dari
berat, tekstur dan kadar gula buah pisang. Durasi waktu yang optimal untuk
pemasakan buah pisang berada diantara 4-6 hari. Dengan disimpan di suhu yang
ruangan yang optimal.







