LAPORAN
MINGGUAN
FISIOLOGI
DAN TEKNOLOGI PASCAPANEN
ACARA II: Sorting, Washing, Grading, dan Packing: Minimum Handling
Beberapa Buah, Sayur dan Biji-bijian Terseleksi
dan
ACARA
IV: Pengaruh Kadar Air Terhadap Umur Simpan Beberapa Biji-bijian
Oleh:
Nama :
IRADAT
NIM : CIM014086
Kelompok :7
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
MATARAM
2017
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan
ini disusun dan disahkan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti praktikum
selanjutnya.
Mataram,
07 April 2017
Mengetahui,
Co.Ass Praktikan,
(MOH.SAMSUL
AZIS)
(IRADAT)
NIM: C1M013124 NIM: C1M014086
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dibidang pertanian, istilah pascapanen sudah tidak asing lagi didengar oleh
para petani. Pascapanen merupakan suatu tindakan perlakukan yang diberikan pada
hasil pertanian setelah panen, sampai komoditas berada pada tangan konsumen. Penanganan
pascapanen tidak bisa ditunda-tunda dalam pengolahannya, terutama pada produk holtikultura (buah dan sayuran)
karna akan cepat mengalami kerusakan (penyusutan).
Pengelolaan pascapanen meliputi
sorting, washing, sizing, grading dan packing. Sorting merupakan suatu
kegiatan memilih buah dan sayur secara visual yaitu fisik dan fisiologis
mempunyai kondisi yang baik artinya tidak cacat/ memar. Kemudian dilakukan
washing, yaitu membersihkan atau mencuci buah dan sayur dengan
cara memasukkan kedalam bak air,
yang bertujuan untuk meghilangkan kotoran, residu pestisida
dan sumber kontaminasi lainnya. Selanjutnya dilakukan sizing, yakni memilih
sayur dan buah dilihat dari ukurannya yang besar dan panjang atau ukuran
maksimal. Selain itu dilakukan juga grading, yakni memilih
sayur dan buah dari tingkat kemasakan buah atau warna buah, terahir dilakukan
pengemasan (packing) dengan alat kemas yang sesuai jenis komoditi.
Penyimpanan hasil panen yang telah dikemas tentunya masih melakukan proses
metabolisme, yaitu respirasi. Sehingga penyimpanan pada suhu kamar dapat terjadinya
penyusutan berat atau terjadinya kehilangan hasil, sehingga hal ini akan dapat
mengurangi pendapatan para petani atau para pedagang buah dan sayuran karna
terjadinya penyusutan (tingkat kesegaran berkurang), tentunya saat sampai
ketangan konsumen sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi.
Oleh karena itu, pentingnya dilakukan praktikum tentang penanganan
pascapanen terutama saat sorting, sizing dan grading. Karena pada
penanganan ini akan dipilih komoditi yang terbaik dan dipilih juga tingkat
kemasakan buah, agar dapat diprediksi berapa lama buah atau sayur tersebut bias bertahan, sehingga
dapat meminimalisir kehilangan hasil serta pendapatan para petani.
B.
Tujuan
praktikum
Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini
antara lain:
1. Mengetahui
tahapan sortasi terhadap
beberapa buah, sayur dan biji-bijian terseleksi setelah panen
2. Mengetahui teknik pencucian pascapanen beberapa buah,
sayur dan biji-bijian terseleksi
3. Mengetahui teknik sizing dan grading pascapanen beberapa
buah, sayur dan biji-bijian terseleksi
4. Mengetahui jenis material packing yang sesui untuk
beberapa buah, sayur dan bijian terseleksi.
5. Mengetahui kadar air dan beberapa produk pascapanen yang
diperdagangkan dalam kondisi kering
6. Membandingkan kadar air antara produk segar dan produk
kering dari komoditas yang sama
7. Membandingkan daya simpan antara produk kering dan segar
dari komoditas yang sama.
BAB II
METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan tempat
praktikum
Praktikum ini dilaksanakan
pada hari Jum’at, 31
Maret 2017 pukul 08:00-09:30 di
Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas
Mataram.
B.
Alat dan bahan praktikum
Alat-alat
yang digunakan antara lain:Styrofom, plastik
urep, kertas label, timbangan analitik, alat tulis menulis dan kamera.
Bahan-bahan yang digunakan
praktikum antara lain: tomat dan buncis
C.
Prosedur kerja
1.
Disiapkan alat dan bahan praktikum
2.
Disortir masing-masing komoditas, dipilih yang bebas luka memar, luka
mekanik dan luka busuk
3.
Ditimbang hasil yang telah disortir
4.
Dipilih tiap-tiap komoditas berdasarkan ukuran dan tingkat kematangan yang
sama yang dilakukan secara visual dan manual.
5.
Dilakukan packing dengan styrofom
dan ditutup dengan kertas urep
6.
Disimpan pada suhu kamar
7. Diamati setiap H+1, H+3, H+5 dan H+8 dan
dilakukan penimbangan.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
pengamatan
Tabel 1. Pengamatan: Sorting Beberapa Sayuran dan Buah Terseleksi
|
Foto yang diambil di Lab
|
Nama komersial
|
Latin binomial
|
Jumlah produk sebelum sortasi
(gr)
|
Jumlah produk setelah sortasi
(gr)
|
Jenis material packing
|
|
|
Buncis
|
Phaseolus vulgaris
|
500 gr
|
175 gr
|
Styrofom dan plastik
|
|
|
Tomat
|
Solanum lycopersicum
|
1500 gr
|
781 gr
|
Styrofom dan plastik
|
Tabel 2. Pengamatan: Sizing Dan Grading Beberapa Sayuran
dan Buah Tersel1eksi
|
Foto yang diambil di Lab
|
Nama komersial
|
Latin binomial
|
Jumlah produk sebelum sizing
dan grading (gr)
|
Jumlah produk setelah sizing
dan grading (gr)
|
Jenis material packing
|
|
|
Buncis
|
Phaseolus vulgaris
|
175 gr
|
83 gr
|
Styrofom dan plastik
|
|
|
Tomat
|
Solanum lycopersicum
|
781 gr
|
356 gr
|
Styrofom dan plastik
|
Tabel
3. Pengamatan Kecepatan Respirasi Selama Masa Simpan pada Buah
|
Komoditi buah
|
Perlakuan
|
Berat awal (gr)
|
Berat selama penyimpanan
|
|||
|
Hari ke 1
|
Hari ke 3
|
Hari ke 5
|
Hari ke 8
|
|||
|
Tomat
|
Kemas
|
950 gr
|
243 gr
|
241 gr
|
239 gr
|
236 gr
|
|
Kontrol
|
Tanpa kemas
|
204 gr
|
204 gr
|
202 gr
|
201
|
201
|
Tabel
3. Pengamatan Kecepatan Respirasi Selama Masa Simpan pada Sayur
|
Komoditi buah
|
Perlakuan
|
Berat awal (gr)
|
Berat selama penyimpanan
|
|||
|
Hari ke 1
|
Hari ke 3
|
Hari ke 5
|
Hari ke 8
|
|||
|
Buncis
|
Kemas
|
225 gr
|
116 gr
|
113 gr
|
110 gr
|
103 gr
|
|
Kontrol
|
Tanpa kemas
|
69 gr
|
66 gr
|
60 gr
|
59
|
55
|
Tabel
4. Persentase tingkat penyusutan bobot selama penyimpanan
|
Komoditi buah
|
Perlakuan
|
% Penyusutan selama
penyimpanan
|
|||
|
H+1
|
H+3
|
H+5
|
H+8
|
||
|
Tomat
|
Kemas
|
-22%
|
-21%
|
-24%
|
-35%
|
|
Tomat
|
kontrol
|
0%
|
0,98%
|
1,47%
|
1,47%
|
|
Buncis
|
Kemas
|
-16%
|
-14%
|
-12%
|
-16%
|
|
Buncis
|
Kontrol
|
4,34 %
|
13,4%
|
14,49%
|
20,28%
|
B.
Analisis data
Rumus :
x 100%
Keterangan:
A= Berat awal
B= Berat (H+1, H+3, H+5 dan H+8)
C.
Diagram batang
D.
Pembahasan
Penanganan
pascapanen produk holtikultura merupakan suatu yang sangat penting dilakukan,
karna mengingat bahwa produk holtikultura (buah dan sayuran) merupakan produk
yang memiliki kandungan air yang cukup banyak, sehingga komoditi sayur dan buah
akan menurun tingkat kesegaran dan harganya akibat terjadinya proses metabolisme yang menjadikan
kadar airnya bekurang terutama pada komoditi buah dan sayur akan menjadi layu.
Sehingga perlunya penerapan teknologi pascapanen yang bertujuan untuk
peningkatan kualitas, tentunya dapat mengurangi susut karena penurunan mutu
produk yang melibatkan proses fisiologi normal dan atau respon terhadap kondisi
yang tidak cocok akibat perubahan lingkungan secara fisik dan kimia, fisik dan
biologis. Sifat mudah rusak (perishable) dari produk mengakibatkan tingginya
susut pascapanen serta terbatasnya masa simpan setelah pemanenan sehingga
serangga, hama dan penyakit akan menurunkan mutu produk. Susut pascapanen
produk holtikultura berkisar antara 15% hingga 25% tergantung pada jenis produk
dan teknologi pascapanen yang digunakan.
Beberapa cara penanganan yang dilakukan setelah pemanenan, yaitu sorting,
washing, sizing, grading dan packing. Sortasi dan pembersihan setelah panen
hasil pertanian perlu dilakukan dengan cara memisahkan hasil pertanian yang
berkualitas kurang baik (cacat, luka, busuk dan bentuknya tidak normal) dari
hasil pertanian yang berkualitas baik. Selama sortasi
harus diusahakan agar terhindar dari kontak sinar matahari langsung karena akan
menurunkan bobot/terjadi pelayuan dan meningkatkan aktivitas metabolisme yang dapat
mempercepat proses pematangan/respirasi. Pada proses sortasi ini dapat sekaligus dilakukan proses pembersihan untuk menghindari kerusakan yang tinggi pada hasil pertanian, pembersihan
atau pencucian dapat menggunakan air bersih yang mengalir untuk menghindari
kontaminasi. Setelah melakukan sortasi dan pembersihan, maka dilakukan sizing
dan grading yaitu melakukan penggolongan kelas dilihat dari ukuran besar dan
golongan kelas yang seragam bermutu baik sesuai standar yang telah ditetapkan
oleh permintaan konsumen. Selama sizing dan grading harus diusahakan terhindar
dari kontak sinar matahari langsung karena akan menurunkan bobot/terjadi
pelayuan dan meningkatkan aktivitas metabolisme yang dapat mempercepat proses
pematangan/respirasi. Selanjutnya dilakukan pengemasan (packing) yang berfungsi
untuk melindungi/mencegah komoditi dari kerusakan mekanis, menciptakan daya
tarik bagi konsumen dan memberikann nilai tambah produk serta memperpanjang daya
simpan produk, sehingga dalam pengemasan harus dilakukan dengan hati-hati agar
terhindar dari suhu dan kelembaban yang ekstrim, goncangan, getran, gesekan dan
tekanan yang tinggi terhadap kemasan hasil pertanian tersebut.
Pada praktikum ini
dilakukan pengamatan mengenai sorting, washing, sizing, grading dan packing
terhadap sayur buncis dan buah tomat, serta kecepatan respirasi selama
penyimpanan. Pengamatan pada tabel pertama dilakukam sortasi yaitu pada sayur
buncis dengan berat awal 500 gr, setelah dilakukan sortasi ternyata berat
buncis mengalami penurunan yakni 175 gr. Sedangkan pada buah tomat mempunyai
berat awal 1500 gr (1,5 kg), setalah dilakukan sortasi buah tomat juga
mengalami penurunan yakni 781 gr, menurunnya berat awal setelah dilakukan
sortasi disebabkan karna, banyaknya kualitas buah dan sayuran yang kurang baik
yakni mengalami kerusakan, cacat, luka, busuk dan bentuk yang tidak normal. Sehingga
sedikit yang didapatkan buah dan sayuran yang termasuk kulitasnya baik. Sortasi
ini dilakukan dengan tujuan agar buah dan sayuran yang rusak atau tidak normal
tersebut tidak menularkan patogen penyakit (jamur, bakteri dan virus) terhadap buah dan sayuran yang masih
berkualitas bagus dan normal.
Pada tabel kedua, dilakukan sizing
dan grading, pada sayur buncis memiliki berat sizing sebanyak 175 gr kemudian mengalami penurunan
setelah dilakukan grading yaitu sebanyak 83 gr, sedangkan pada buah tomat
memiliki berat sizing sebanyak 781 gr kemudian mengalami penurunan setelah
dilakukan grading yaitu 356 gr. Buncis
dan tomat mengalami penurunan berat yang
drastis setelah dilakukan grading. Ini disebabkan karena saat sizing dan grading banyaknya buah dan sayuran yang memilki
penggolongan kelas dari segi ukuran yang kecil-kecil serta keseragaman mutu seperti
bentu dan warna yang tidak sesuai dengan standar, yang telah ditetapkan oleh permintaan konsumen, sehingga berat gradingnya
menjadi berkurang. Setelah melakukan grading, dilanjutkan dilakukan pengemasan
menggunakan styrofom dan plastik uref, bertujuan agar buah dan sayuran terhindar dari kerusakan mekanis, kelembaban
yang ekstrim, umur simpan lama dan
tentunya menciptakan daya tarik bagi
konsumen.
Pada tabel ketiga,
pengamatan kecepatan respirasi selama masa
simpan pada sayur dan buah, pada buah tomat dan sayur buncis
dengan perlakuan dikemas berat awal lebih rendah di banding berat setelah
penyimpanan, begitu juga persentasinya, persentasinya semakin meningkat artinya
buah tersebut tidak mengalami penyusutan, kemungkinan beratnya bertambah karna
proses laju respirasi maxsimum, selain itu juga kemungkinan adanya kesalahan
pada praktikan selama melakukan penyimpanan, yakni terjadi penguapan yang sangat
tinggi akibat disimpan pada suhu ruangan yang tinggi. Hal ini sesuai dengan
literatur Stintzing (2002) mengatakan bahwa respirasi memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi
prosesnya yaitu faktor internal yang mempengaruhi laju respirasi antara lain
umur, tipe atau jenis tumbuhan, sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi
laju respirasi antara lain adalah ketersediaan jumlah substrat, oksigen dan
kelembaban serta suhu linkungan. Umumnya, laju reaksi resprasi akan meningkat
untuk setiap kenaikan suhu sebesar 100C namun ini tergantung pada
masing-masing spesies.
Sedangkan kontrol (tanpa kemas) pada buah tomat dan sayur buncis berat awal
lebih tinggi dibanding berat setelah dilakukan penyimpanan. Artinya buah tomat
mengalami penyusutan, semakin lama disimpan persentasi penyusutan semakin
bertambah, hal ini disebabkan karna terjadinya laju transpirasi yaitu pengeluaran
air dari dalam jaringan produk nabati. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim (2011) mengatakan
bahwa laju transpirasi dipengaruhi oleh faktor internal (morfologi, rasio
permukaan terhadap volume) dan faktor eksternal (suhu, kelembaban, pergerakan
udara dan tekanan atmosfir). Transpirasi yang berlebihan menyebabkan produk
mengalami pengurangan berat, daya tarik
(karna layu), nilai tekstur dan nilai gizi. Pengendalian laju transpirasi
dilakukan dengan pelapisan, penyimpanan dingin atau modifikasi atmosfir.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pengamatan dapat ditarik
beberapa kesimpulan, antara lain:
1.
Penting sekali
dilkukan penanganan pascapanen terhadap komoditi buah, sayuran,serta
biji-bijian, agar tingkat kesegaran dan kualitas produk tetap bagus, dan dapat
menimalkan terjadinya kerugian atau kehilangan hasil pascapanen.
2.
Ada beberapa
tahapan penanganan pascapanen pada buah dan sayuran, yaitu sortasi, pencucian,
sizing, grading dan packing.
3.
Dari hasil
pengamatan, berat awal sayuran buncis 500 gr, berat setelah sortasi 275 gr
terjadinya penurunan. Sedangakan pada berat awal buah tomat 1500 gr(1,5 kg),
berat setelah sortasi 825 gr menalami penurunan, karna banyanya buah dan
sayuran yang mengalami kerusakan.
4.
Hasil pengamatan
sizing dan grading pada sayur buncis (275 gr) dan buah tomat (825 gr) mengalami
penurunan menjadi 75 gr pada buncis dan 200 gr pada tomat, disebabkan karna
banyaknya buah dan sayuran yang ukurannya kecil-kecil, tidak seragam, dan tidak
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh permitaan konsumen.
5.
Packing pada sayur
buncis dan tomat dilakukan dengan menggunakan kertas uref dan styrofom, agar
terhindar dari kerusakan mekanis, umur penyimpanan lama serta memikat daya
tarik konsumen.
6.
Perlakuan tanpa kemas
pada buah tomat dan sayur buncis mengalami peningkatan berat bobot selama
penyimpanan (tidak terjadi penyusutan) dan persentasinya rendah, dikarenakan
terjadinya laju respirasi yang maksimum dan suhu penyimpanan yang tinggi.
Sedangkan perlakuan kontrol pada buah tomat dan sayur buncis mengalami
penurunan berat bobot selama penyimpanan (terjadinya penyusutan) dan
persentasinya tinggi, dikarenakan terjadinya laju transpirasi sehingga air di
dalam jaringan berkurang, dan juga suhunya tidak terlalu tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim (2011). Teknologi Pasca Panen,
Mempertahankan Kualitas Buah Dan Sayur. Mitra Pratama. Jakarta
Direktorat
pengolahan dan pemasaran hasil holtikultura. 2004. Panduan Teknologi Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Holtikultura.
Departemen pertanian. Jakarta.
Hartanto R. 2008. Perubahan Kimia, Fisika dan Lama Simpan Buah Pisang
Muli dalam Penyimpanan Atmosfir Pasif. Prosiding seminar nasional sains dan
teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008.
Kitinoja, L 2002. Praktik-Praktik Penanganan Pascapanen Skala Kecil: Manual
Untuk Produk Holtikultura (Edisi ke 4) juli 2002. Pen. Utama , I.M.S. Denpasar.
Universitas Udayana.
Pantastico R. B. 1993. Fisiologi Pascapanen : Penanganan dan Pemamfaatan Buah-Buahan dan
Sayur-Sayuran Tropika dan Sub Tropika. Terjemahan Kamariyani. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar